TVRINews, Jeneponto-Sulsel
Nama Lanto Daeng Pasewang mungkin belum banyak mendapat tempat dalam narasi besar sejarah nasional. Padahal, tokoh kelahiran Binamu, Jeneponto, 3 Juli 1900, ini tidak hanya dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, tetapi juga sebagai figur yang dikaitkan dengan perjuangan pemberantasan buta huruf dan transformasi pendidikan di Sulawesi.
Tokoh literasi nasional, Bachtiar Adnan Kusuma, mendorong masyarakat Jeneponto untuk memperjuangkan Lanto Daeng Pasewang sebagai tokoh nasionalis yang teguh dalam memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Lanto Daeng Pasewang bergelar De Leeuw Van Turatea atau “Singa dari Turatea”. Warisan perjuangannya menjadi perhatian Bachtiar Adnan Kusuma selaku tokoh literasi nasional.
Lanto Daeng Pasewang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang teguh membela Republik. Dalam pemaparannya di pelataran Dinas Perpustakaan Jeneponto, Bachtiar Adnan Kusuma mengungkapkan bahwa Daeng Pasewang disebut memimpin delegasi Sulawesi ke Yogyakarta bersama sejumlah tokoh, antara lain Raja Bone Andi Mappanyukki, Datu Luwu Andi Djemma, Pajonga Daeng Ngalle, dan Andi Sultan Daeng Raja.
Salah satu warisan pemikiran Lanto Daeng Pasewang adalah upaya mengubah orientasi pendidikan kolonial yang berorientasi pada pembentukan tenaga administratif atau amtenar menuju pendidikan yang memerdekakan manusia.
"Ia dikaitkan dengan pengembangan model pendidikan yang menekankan kemandirian, keberanian berpikir dan tanggung jawab membangun kampung halaman. Orientasi tersebut sejalan dengan semangat pendidikan taman siswa serta gagasan guru rakyat yang mengutamakan kebutuhan pendidikan masyarakat," ujar Bachtiar, Rabu, 28 Oktober 2026.
Selain Bachtiar Adnan Kusuma, kegiatan tersebut juga menghadirkan Nasihin, anggota tim pengkaji gelar pahlawan nasional Provinsi Sulawesi Selatan. Ia menyampaikan bahwa dimensi penting perjuangan Lanto Daeng Pasewang terletak pada hubungan antara pemberantasan buta huruf dan partisipasi politik masyarakat.
Menurutnya, literasi saat ini bukan sekadar kecakapan dasar, tetapi juga menjadi bekal bagi warga untuk menggunakan hak politik secara mandiri.
Lanto Daeng Pasewang disebut sebagai salah satu tokoh penting dalam pemberantasan buta huruf di Sulawesi pada periode 1953–1955. Ia juga dikenal sebagai gubernur pertama Sulawesi yang berperan dalam meletakkan fondasi demokrasi di Indonesia Timur.
Kontribusi Lanto Daeng Pasewang dinilai perlu memperoleh perhatian lebih besar dalam penulisan sejarah nasional.
"Perannya dalam pemberantasan buta huruf, pengembangan pendidikan rakyat, penguatan sumber daya manusia dan perluasan partisipasi demokrasi merupakan bidang yang perlu dikaji melalui penelitian sejarah yang komprehensif," ungkapnya.
Julukan De Leeuw Van Turatea bukan hanya mengingatkan masyarakat pada keberanian Lanto Daeng Pasewang dalam perjuangan kemerdekaan. Warisannya juga mengajak masyarakat memahami bahwa kemerdekaan harus diwujudkan melalui pendidikan yang membuka jalan bagi kemandirian rakyat.
"Mengenang Lanto Daeng Pasewang berarti merawat gagasan bahwa kemerdekaan sejati tidak berhenti pada terbebasnya bangsa dari penjajahan, tetapi juga hadir ketika rakyat memperoleh pengetahuan dan kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri," katanya.
Kegiatan literasi tersebut juga dihadiri oleh keturunan atau cicit Lanto Daeng Pasewang.










